Sunday, February 17, 2013

Wow, jatuh cinta hanyalah murni reaksi kimia

Berawal dari menonton Penguins Madagaskar di suatu episode yang menceritakan tentang salah satu binatang yang sedang jatuh cinta, penguin yang paling jenius mendefinisikan bahwa:
Cinta?

Cinta adalah murni sebuah reaksi kimia pada otak
Sebelum kita lanjut ke pokok pembahasan, iseng-iseng ada pertanyaan berhadiah deh:
1. Temen-temen pernah jatuh cinta?
(Kalo pernah lanjut ke pertanyaan dua, kalo belum pernah ga usah baca artikel ini deh. Pasti jadi kurang menarik buat yang belum jatuh cinta)
2. Waktu lagi mabuk cinta, pernah ngerasa senang luar biasa kalo lagi ngeliat 'doi' atau denger namanya?
3. Ini pertanda mabuk cinta akut nih, pernah ga mabuk cinta sampai hilang selera makan dan tidur?

Untuk yang semua jawabannya positif (alias ya), oke.. harap serius untuk menyimak.

Pada pasangan kekasih baru, terjadi senyawa kimia yang dilepaskan oleh otak yang menciptakan perasaan yang cukup aneh. Reaksi yang terjadi pada tubuh kita seperti kehilangan selera makan, susah tidur, perasaan girang, gelisah, jantung berdebar lebih kencang, dan sedikit gagap bicara. (Sumpah, saya pun mengalaminya dan akhirnya menyetujui bahwa lirik-lirik alay tentang cinta benar adanya).

Tahu hormon serotonin? Untuk yang sedikit lupa-lupa ingat, serotonin adalah hormon penghubung/pembawa pesan pada sel-sel saraf. Pada keadaan mabuk cinta, hormon serotonin menurun sehingga terjadilah makan tak enak tidur pun tak nyenyak.

Tau hormon dopamin? Dopamin adalah sebuah senyawa kimia pembawa pesan yang berhubungan erat dengan kondisi euforia, mengidam, dan kecanduan. Reaksi lainnya seperti energi meningkat, dan mudah muncul kesenangan. Reaksi yang terlihat hampir sama dengan orang yang terlibat penyalahgunaan narkoba. Tapi jangan salahkan euforia yang terjadi karena terkadang perasaan seperti ini yang membuat seseorang menjadi lebih terinspiratif, lebih kreatif, dan akan mudah membuat puisi yang menyentuh.

Testosteron, adalah hormon utama yang menciptakan adanya dorongan (maaf) seks. Testosteron lebih banyak dimiliki oleh manusia berjakun alias pria. Tapi pada saat mabuk cinta, testosteron pada wanita akan meningkat.

Oksitosin, dikenal dengan hormon penyayang. Sudah bisa ditebak hormon ini lebih banyak dimiliki oleh kamu hawa. Oksitosin pada pria akan 'membludak' saat di mabuk cinta sehingga para pria yang dekat dengan 'doi' sering merasa hangat, nyaman, atau apapun namanya yang memang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.

Itulah hormon-hormon yang bereaksi di saat sedang mengalami keadaan yang sangat indah anugerah Tuhan yaitu "jatuh cinta". Namun kita tahu bahwa mabuk cinta bukanlah suatu kondisi yang abadi seiring dengan me-normal-nya kadar testosteron pada wanita dan menurunnya oksitosin pada pria.

Sekarang mari kita merenung sejenak. Jika jatuh cinta adalah murni reaksi kimia sementara mabuk cinta tidak akan bertahan lama, lalu apa yang menyebabkan di luar sana banyak pasangan yang sukses melanjutkan hubungan dalam jangka waktu yang amat panjang?

Tentu saja ada faktor lain selain hormon yang bekerja. Tanya hati dan akal anda :)

Nb. Informasi diambil dari buku Why Men Want Sex and Women Need Love

No comments: