Maaf..maaf..maaf..
Entah sejak kapan aku alergi dengan kata itu. Sangat-sangaat-sangaaaaaaaaaaat benci dengan orang yang meminta maaf kepadaku. Dan kembali saya ucapkan, entah kenapa benci dengan kata itu. Karena maaf itu bukan hanya ucapan, tapi tindakan perbaikan. Tak perlulah bilang maaf, cukup perbaiki apa yang rusak, sembuhkan apa yang terluka, dan permanis apa yang seharusnya bisa manis.
Tentu saja maaf di topik ini bukan maaf yang terucap saat seorang teman menginjak sepatu anda dan lalu dia berkata "maap, ga sengaja". Bukan, bukan maaf yang itu. Bukan juga maaf saat seseorang tak dikenal di kantin meminta tolong dan berkata "maap, boleh saya ambil sambelnya?". Juga bukan tentang maaf di kalimat "Mohon maaf lahir bathin". Bukaaaaaaaaaaaaaaaan...
Maaf yang aku ungkit adalah ya maaf, bukan sekedar maap atau maap dan maap atau juga maav yang biasa kita dengar sehari-hari. Ini adalah maaf di kisah yang cukup panjang, disaat kita punya kesalahan yang dilakukan sudah cukup lama. Saat disadari bahwa apa yang kita perlakukan selama ini terhadap seseorang adalah salah, ya perbaiki perlakuan itu. Jangan bilang maaf padaku karena aku sudah sangat alergi dengan kata itu.
Bukan maksud untuk menjadikan diri ini eksklusif atau apapun. Karena kita sebelumnya muncul dari cerita yang berbeda.Untuk mereka yang mungkin senang curhat kepadaku, untuk orang-orang yang berinteraksi denganku, dan untuk siapapun yang tentu saja tidak terlalu mengerti isi teks ini tapi tau apa yang kubenci. Sudah melakukan kesalahan padaku lalu ga bisa perbaiki, ga bisa sembuhkan?
Jawabannya hanya satu:
Cukup pergi, biar aku perbaiki sendiri
No comments:
Post a Comment